Blog Orang IT

Terjemahkan

Kisahku Bersama Ulama Jin


Kisahku Bersama Ulama Jin

Laut Syu’aibah dikenal oleh banyak orang sebagai bahrul Jin (laut Jin) yaitu laut yang dihuni oleh bangsa Jin. Yang demikian itu karena banyaknya kejadian aneh yang mereka alami di sana. Aku termasuk salah satu di antara mereka yang merasakan kejadian yang sangat aneh.

Sebagai bentuk amanah, aku tidak bisa menyatakan dengan pasti bahwa itu sebuah kejadian bersama jin, akan tetapi tafsir-tafsir kisah ini akan menunjukkan yang demikian, terutama bahwasannya laut itu telah ditinggalkan (tidak dijamah oleh manusia) lebih dari 13 abad.

Di antara yang pernah kualami adalah bahwa salah satu temanku tengah beristirahat di dalam mobilnya di malam hari, sementara aku dan sebagian teman lain tengah ngobrol malam bersama-sama di tepi pantai. Setelah istirahatnya di dalam mobil berlalu satu jam, dia mendatangi kami dan bertanya kepadaku di hadapan teman-teman yang lain, ‘Mengapa engkau mendatangiku untuk meminta hadir di sini, dan tidak membiarkanku menyelesaikan tidurku?’ Maka aku dan teman-teman tercengang karena aku sama sekali tidak pergi kepadanya.


Demikian pula, pernah terjadi sekali padaku, saat itu aku dalam keadaan sakit, sementara hawa dingin menusuk kala itu. Maka aku pun masuk ke dalam mobil untuk beristirahat. Sementara temanku masih memancing di pantai. Saat itu kira-kira pertengahan malam. Maka dia datang kepadaku, mengetuk kaca mobil dan memberikan isyarat kepadaku untuk membukakan kaca untuknya.

Aku berikan isyarat kepadanya bahwa aku ingin tidur. Maka dia pun pergi dan kuteruskan tidur. Dua jam setelah itu, aku terbangun dan pergi duduk bersamanya. Kemudian aku menanyainya tentang kehadirannya mengetuk kaca mobil padahal dia sudah tahu bahwa aku telah minta izin untuk istirahat barang sebentar. Dia pun mengagetkanku dengan mengatakan bahwa dia tidak pernah mendatangiku, dan dia pun bersumpah atas hal tersebut.

Suatu ketika, aku pergi ke laut tersebut seorang diri, dan duduk di tepi pantai seorang diri di waktu malam. Tiba-tiba aku mendengar suara truk datang ke arahku dengan kecepatan tinggi seakan-akan ingin melindasku, padahal kenyataannya tidaklah demikian, maka akupun berlari menuju kemah dalam keadaan ketakutan dan keheranan. Dan ternyata tidak ada satu mobil pun yang datang, apalagi mobil truk.

Kurang lebih satu bulan setelah kejadian tersebut, 20 tahun yang lalu, aku dan salah seorang sahabatku keluar menuju Laut Syu’aibah persis di tempat tersebut. Kala itu suasananya sepi dari manusia sebagaimana biasa. Di saat kami duduk, dan saat itu adalah setelah maghrib, datanglah kepada kami seorang laki-laki, lalu menyampaikan salam dan meminta agar kami menyertainya shalat berjama’ah bersama teman-temannya.

Maka kami -aku dan sahabatku- melihat ke arah yang ditunjukkan oleh laki-laki tersebut, ternyata di sana sudah ada tiga mobil, yang di sebelahnya sudah ada kemah. Maka kami pun menjanjikannya untuk ikut hadir beberapa saat lagi.

Setelah dia pergi, aku dan sahabatku merasa heran, karena kami telah sampai di tempat ini sebelum maghrib, dan tidak ada seorangpun di sana, maka bagaimana mereka datang, lalu memasang kemah tanpa kami rasakan kehadiran mereka sama sekali?!! Termasuk perkara mustahil, mereka sampai di sini tanpa kami sadari!

Sahabatku berkata, ‘Aku khawatir mereka adalah jin.’ Maka akupun tertawa dengan kesimpulannya, sekalipun aku juga keheranan, perkara tersebut belum pernah terbetik di dalam benakku. Di saat kami selesai berwudhu’, sahabatku menolak untuk pergi bersamaku guna shalat bersama mereka.

Aku berusaha untuk membujuknya akan tetapi dia menolak mentah-mentah. Aku terpaksa pergi seorang diri menuju mereka. Di saat aku telah sampai, mereka menanyaikan sahabatku, maka kukatakan kepada mereka, bahwa dia akan shalat jama’ ta`khir dan aku nantinya akan shalat bersamanya biidznillah.

Namun sepertinya jawabanku tidak memuaskan mereka, terutama tampaknya pada diri mereka tanda-tanda keistiqamahan dalam bergama dengan pakaian mereka, jenggot dan ketenangan mereka.
Akupun shalat maghrib dan isya’ bersama mereka dengan jamak qoshor.

Kemudian, sebentar setelah shalat mereka membuat halaqah. Kemudian orang pertama dari sebelah kanan memulai membaca satu ayat dari al-Qur`an dan menafsirkannya, lalu menyebutkan sebuah hadits dan mensyarahnya. Setelah dia selesai, orang setelahnya melakukan seperti itu pula, dan demikian pula seterusnya.

Maka akupun merasa bahwa giliran tersebut akan sampai juga kepadaku, maka ketakutan pun merasukiku. Apa yang akan kukatakan di hadapan mereka yang tampak sekali bahwa mereka adalah para ulama, terutama umur mereka sudah tua sementara aku masih muda dan perbekalan ilmuku masih sangat sedikit.

Jumlah mereka kala itu 8 atau sembilan. Hanya dengan sampainya giliran tersebut pada orang yang keempat, aku sudah kehilangan konsentrasi memahami apa yang mereka katakan, karena konsentrasiku kala itu terpusat pada apa yang akan kukatakan saat datang giliranku. Dan alhamdulillah aku adalah orang yang terakhir di antara mereka.

Pada saat giliran telah sampai pada orang sebelumku, maka naiklah suhu badanku, keringatpun mulai menetes, ujung-ujung jarikupun gemetaran. Siapakah aku, saat berbicara dengan kehadiran para masyayikh tersebut?! Maka akupun mencela diriku sendiri mengapa aku menghadiri majelis mereka? Akan tetapi tidak ada faidahnya celaan tersebut, giliranpun datang….

Akan tetapi giliran orang yang sebelum aku selesai, dia mengagetkanku dengan beberapa pertanyaan tentang laut, seakan-akan dia ingin memahamkanku, bahwa aku berada di luar acara dakwah tersebut. Maka akupun sangat bergembira dengannya, dan akupun berdo’a untuknya di dalam hati karena telah menyelamatku dalam situasi sulit tersebut.

Maka akupun menjawab sebagian pertanyaan-pertanyaan mereka, hanya saja, aku merasa aneh saat mereka menanyaiku tentang tempat yang digunakan oleh para sahabat Nabi untuk menyebrang dalam hijrah mereka ke Habasyah.

Di saat aku menjawab mereka tentang tempat tersebut, yang jawaban itu adalah murni dari ijtihadku, mereka menyetujuiku dan berkata, ‘Engkau benar, ya benar.’ Aku pun heran dengan ucapan mereka, ‘Engkau benar.’ Seakan-akan mereka telah mengetahui hakikatnya. Lalu mengapa mereka bertanya kepadaku?!

Sebentar kemudian, aku meminta izin kepada mereka untuk kembali ke sahabatku. Mereka pun memberikan izin. Sesampai di sana, ia menegurku karena aku terlambat. Lalu aku menjelaskan kepadanya apa yang kualami.
Satu setengah jam kemudian, orang pertama yang sama datang kepada kami dan mengundang kami untuk menyertai makan malam bersama mereka.

Kami menolak dengan alasan bahwa makan malam kami sudah ada dan siap. Dia pun menolak mentah-mentah. Kami berusaha untuk meyakinkannya, namun gagal, dia terus menerus mendesak agar kami memenuhi undangan mereka. Maka kami tidak menemukan jalan kecuali setuju menghadiri undangannya. Dia pergi setelah kami katakan bahwa kami akan datang sebentar lagi.

Setelah dia pergi, sahabatku menolak untuk pergi bersamaku guna makan malam bersama mereka seperti yang kami janjikan kepada laki-laki itu. Aku berusaha untuk meyakinkan bahwa perkara ini akan sangat menyulitkanku. Akan tetapi dia tetap dalam sikapnya. Aku terpaksa memenuhi undangan tersebut padahal saat-saat yang paling indah pada rekreasi semacam ini adalah sate yang kami buat di atas laut. Akan tetapi aku berharap pahala kepada Allah, dan aku pun pergi kepada mereka sendirian.

Saat aku sampai, mereka menanyakan sahabatku, maka kukatakan bahwa dia ingin sendirian, dan sangat menyukai yang seperti itu. Mereka pun menerima alasan tersebut dengan lapang dada, dan mereka menyebutkan bahwa mereka berharap agar dia menyertai makan malam bersama mereka.

Makan malam kala itu berupa daging kambing yang telah mereka sediakan dan sembelih di laut. Aku telah melihat kambing tersebut saat shalat. Aku makan malam bersama mereka. Setelah makan malam, mereka menghidangkan teh. Setengah jam kemudian, aku meminta izin kepada mereka untuk kembali. Aku kembali ke sahabatku dan melanjutkan obrolan kami.

Namun, kurang lebih lima belas menit kemudian terjadi perkara yang aneh. Kami hadapkan wajah kami ke arah tempat duduk dan perkemahan mereka, tapi kami tidak menemukan seorangpun. Mereka telah benar-benar hilang. Aku dan sahabatku sangat tercengang, tidak mungkin mereka pergi tanpa kami mengetahui mereka, tanpa mengetahui suara dan cahaya mobil mereka.

Tanpa sadar akupun berdiri dan pergi berjalan ke arah tempat duduk mereka, dan sahabatku pun langsung menyusulku. Aku pusatkan pandanganku ke tampat mereka tadi duduk bermajlis. Aku tidak menemukan bekas apapun yang menunjukkan bahwa sebelumnya di sana ada satu orang duduk. Hingga bekas roda mobilpun tidak ditemukan di atas pasir, tidak ada bekas penyembelihan dan makan malam, tidak pula jejak kemah mereka.

Kemudian mengapa mereka mendirikan kemah kalau mereka tidak akan menginap di sini?! Kemudian, mengapa mereka meninggalkan seluruh sisi laut ini dan memilih duduk di sebelah kami?! Perasaan takutpun datang saat itu. Aku memutar kejadian yang kulalui bersama mereka. Kemudian aku sadar bahwa mereka belum mengenalkan diri mereka saat kami duduk bersama, dan ini menyelisihi adat kebiasaan kami bangsa Arab. Dan yang aneh, aku tidak mengingkari tidak adanya perkenalan kami, dan itu telah terjadi tanpa aku menyadarinya.

Demikian pula aku ingat persejutuan mereka akan penentuan tempat hijrah para sahabat, dan bahwa penemuanku itu benar 100 persen. Kemudian mereka pergi tanpa mengucapkan salam, dan ini juga menyelisihi adat kebiasaan kami.

Setelah jelas, bahwa tidak ditemukan jejak mereka, sahabatku pun kembali sambil berlari ketakutan di tengah kegelapan menuju ke dalam mobil, dan aku pun langsung menyusulnya juga. Dia menegurku dan berkata, ‘Bukankah telah kukatakan kepadamu sejak awal bahwa mereka adalah jin?!!

Kejadian ini terus ada dalam memoriku dan tidak pernah aku melupakannya sama sekali, jika mereka adalah dari bangsa jin. Maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku bisa duduk bersama dengan orang-orang shalih di antara mereka, dan shalat bersama mereka.

Mamduh Farhan al-Buhairi

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisahku Bersama Ulama Jin"

Post a Comment